M. Arfah D.

Saatnya Energi Terbarukan

dengan satu komentar

Modern Marvels: Renewable Energy
Jenis film: Dokumenter sains dan teknologi
Tahun rilis: 2006
Durasi: 44 menit

Di dinding pembatas halaman satu ruko di Los Angeles, Amerika Serikat, tercetak mural simbol cinta berukuran besar. Ia merah menyala dengan latar berwarna lumpur. Secara melintang, tertulis tipografi hitam di tengahnya: Lovercraft. Ini mengesankan bahwa ruko itu semacam pub rendahan. Bukan, bukan. Anda tidak akan mendapatkan bir murah di sana, tapi malah melihat sederetan mobil antri. Pelanggan ingin Lovercraft mengubah mobil diesel mereka menjadi mobil berbahan bakar minyak nabati. Para teknisi akan memasang penyaring khusus berarus besar dan heat exchanger berdampingan dengan mesin mobil. “Mereka (mobil, red.) juga mampu bergerak dengan biodiesel, minyak mineral, minyak tanah, minyak motor transmisi. Anda tidak harus menggunakan semuanya, tapi itu semua bisa digunakan setelah kendaraan dikonversi,” jelas Brian Friedman, Desainer Sistem Lovercraft.

Meski tampak semacam bengkel biasa, usaha Lovercraft memang tidak umum. ‘Keanehan’ ini yang mungkin membuat pemilik Lovercraft menambahkan kata Bio-Fuels dibawah tipografi Lovercraft. ‘Keanehan’ ini pula yang menjadikan Lovercraft menjadi bagian kecil yang menarik dari film dokumenter Modern Marvels: Renewable Energy.

Modern Marvels: Renewable Energy semacam film dokumenter. Ia menghadirkan fenomena pemanfaatan energi terbarukan abad 21, dari energi matahari sampai gelombang laut, dari North Dakota sampai Sahara. Film ini menyepakati apa yang dikeluhkan oleh penduduk dunia: kelangkaan minyak dan gas alam serta perubahan iklim dari penggunaannya.

Energi terbarukan dapat mengganti peran bahan bakar fosil dengan menerapkan berbagai teknologi. Panel photovoltaic, misalnya, yang dapat menangkap panas matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik. FedEx, perusahaan jasa pengiriman barang, menerapkan teknologi ini untuk keberlangsungan aktivitas sortir di Bandara International Oakland, California. Atap seluas 7.300 meter persegi berfungsi ganda saat ia diubah menjadi rangkaian photovoltaic pada 2005. Rangkaian tersebut menghasilkan 904 kW, memasok kebutuhan listrik FedEx hingga 80 persen, menggerakan sistem penyortiran tepat dibawahnya. Fungsi teknologi pemanfaatan energi matahari sama hebatnya dengan teknologi energi terbarukan lainnya, seperti turbin angin, sumur geotermal, mobil plug-in hybrid, dan tidal stream power.

“Sekarang kita punya kesempatan untuk membalikkan kondisi dari ekonomi berbasis bahan bakar fosil dengan sedikit energi terbarukan, menjadi ekonomi berbasis energi terbarukan dengan sedikit bahan bakar fosil,” kata Professor Dan Kammen, PhD, dari Energy and Resources Group, UC Berkeley. Melihat teknologi yang berkembang, pendapat Dan dapat terwujud. Ia tinggal menunggu kebijakan politik tiap negara dan perubahan pola pikir masyarakat.

Renewable Energy adalah satu episode dari serial dokumenter Modern Marvels yang tayang di The History Channel, saluran televisi kabel milik A&E Television Network yang siarnya sampai ke Skandinavia. Dia muncul pada 20 September 2006 sebagai episode ke-41 musim ke-13 Modern Marvels. Serial dokumenter Modern Marvels disutradarai oleh Bruce Nash dengan narator Max Raphael. Sejak kehadirannya pertama pada 1 Januari 1995, jumlah produksi Modern Marvels kini mencapai 661 episode yang terbagi dalam 17 musim tayang.

Modern Marvels: Renewable Energy termasuk dalam kategori film dokumenter modern. Ia bersahabat dengan televisi sebagai media tayangnya. Maka dia mesti rela tumpang tindih dengan program-program televisi lainnya, termasuk iklan. Akibatnya, film ini terbagi menjadi 5 bagian yang masing-masing merupakan ruang untuk jenis-jenis energi terbarukan, yaitu matahari, angin, uap dan panas bumi, bahan bakar hayati serta gelombang laut.

Berbeda dengan film dokumenter genre lain yang umumnya lahir dari fungsi kontrol sutradara yang dominan, film-film dokumenter modern, seperti Modern Marvels: Renewable Energy, mesti sepakat dengan apa yang diyakini oleh televisi sebagai induknya. Modern Marvels yang mengkhususkan diri pada dokumentasi sains dan teknologi tampaknya melakukan pola asosiatif pada visual, dan eksposisi pada verbal. Kedua pola ini diterapkan dalam episode Renewable Energy. Ia menggunakan potongan-potongan gambar yang disusun sedemikian rupa, baik secara simbolis maupun tidak, agar maksud narator dapat tersampaikan. Renewable Energy pun menampilkan hasil wawancara praktisi energi demi penegasan informasi dan misi film. Jelas, Modern Marvels: Renewable Energy ingin membuktikan bahwa saatnya energi terbarukan menjadi solusi global atas permasalahan energi.**

*Naskah ini dimuat di Majalah Energi edisi Maret 2011.

Ditulis oleh marfahd

Maret 29, 2011 pada 4:31 pm

Ditulis dalam Resensi

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. makasih infonya ! :)

    kahoda

    Maret 29, 2011 pada 4:39 pm


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.