Kabar Mentari #10
Minggu, 6 Juni 2010
Saya tidak menyangka Maman bertraktir saya hari itu. Dia dekati saya, dan bilang diam-diam, “Hayuk ka warung, urang traktir. ” Setelah saya bilang hore, kami lalu keluar. Lebih dulu, dia memastikan bahwa kepergian saya tidak disadari oleh anak-anak dan pengajar lain. Saat dia sudah merasa aman, kami berangkat ke warung agak besar di ujung lembah yang biasa kami turuni jika ingin ke Mentari. Saya masih senyum-senyum, berpikir dia bisa bertraktir apa.
“Hayang traktir naon? ” tanya saya, sementara lelaki agak gendut penjaga warung sudah menunggu.
“Naon we,” jawabnya.
Saya mengerti bahwa dia akan senang jika bisa traktir saya, dan apa yang dia bisa traktir tidak jadi masalah asal saya mengerti bahwa uang yang sedang dia pegang pasti tidak banyak. “Haus euy, ieu wee nya,” kata saya sambil menunjuk teh gelas yang disusun asal di salah satu sudut dalam lemari kaca. Dia menyusul pesan, minta barang yang sama, tapi dingin. Saya jadi ganti, ikut dia minta yang dingin. Hujan rimis tak jadi pertimbangan kami memutuskan minum teh dingin, sebab kami masing-masing sepakat, tanpa kami sadari, bahwa kami masih muda. Bahkan, dia yang tampaknya lebih muda, sebab selanjutnya dia minta sebatang rokok kretek.
Saat dia bayar, saya paham kenapa hari itu dia ingin traktir, merasa perlu balas budi sebab sekian kali sebelumnya saya yang traktir dia. Dia bayar dengan satu pecahan lima ribu yang beberapa jam sebelumnya saya berikan ke dia lewat Kak Angga. Kesepakatan saya dan diri saya untuk menyenangkan dia, saya langgar sendiri. “Maneh mah, lain ditabung atuh, eh malah traktir saya,” keluh saya. Dia ketawa-ketawa saja. Beberapa hari setelahnya, saya jadi memikirkan tindakan mana yang sebenarnya baik. Saya memintanya dia menabung lima ribu yang saya berikan, memakainya jika ia perlu, atau membiarkan dia merasa senang bisa traktir saya dengan uang lima ribu yang baru beberapa menit lalu saya berikan. Saya memutuskan bahwa traktir saya mungkin adalah salah satu keperluan dia, sekalipun sedikit banyak saya pun ikut senang ditraktir olehnya. Pada akhirnya terlihat bahwa daya tabung dia hanya bisa beberapa menit. Hihihi, ah toh masih ada sisa. Dia bisa beli rokok sebatang dua batang esok atau lusa. Dan kini saya cukup senang, membiarkan hari itu tetap menjadi hari itu, dan kami berbincang seolah masa depan tak perlu dicemaskan.
“Kakak gawe dimana sih?” tanya dia di tengah perbincangan yang saya tak tahu dari mana mulainya.
“Di Ledeng,” jawab saya.
“Mun aya pagawean, bere atuh, Kak,” pinta dia.
Saya ketawa, dan meledeknya. Saya bilang, kamu bisa pijit saya, dan saya hargai seratus rupiah untuk itu. Dia balik ledek dengan mengubah mimik mukanya menjadi seperti monster. Dia tahu saya khawatir akan dirinya, tapi kami sama-sama mengerti bahwa banyak cara untuk melupakan berbagai masalah. Dia cerita bahwa satu temannya hidup enak, padahal profesinya sebagai tukang rumput. Pembokat, kalau kata dia. Tiap pagi, majikan mengantarnya ke sekolah, dan saat istirahat, temannya punya duit untuk jajan. “Maneh bekel we atuh,” saran saya yang kemudian dia sambut dengan ketawa. Dia lanjut cerita bahwa ibunya beri dia tiga ribu rupiah tiap hari, yang sebenarnya donasi dari Kak Angga. Jumlah segitu cukup untuk ongkos angkot pulang balik dan sisanya, seribu rupiah, bisa buat jajannya. “Mun sopirna belegug mah, dicokot sarebu lima ratus, Kak,” katanya. Jika sudah begitu, dia tidak bisa makan apa-apa.
Saya tahu bahwa orangtua Maman tidak bisa membiayai sekolahnya, bahkan juga hidupnya. Tapi saya baru tahu, setelah Kak Angga cerita, bahwa kondisi keluarganya rumit, dan menjadi lebih rumit saat donasi mulai masuk. Ayahnya pergi saat umurnya baru beberapa bulan, mungkin beberapa hari, saya lupa. Saat ibunya berencana menikah lelaki lain yang tidak disetujui oleh neneknya, dia pergi tanpa membawa Maman. Neneknya lah yang kemudian membesarkannya, dengan bekerja sebagai tukang kumpul kayu di hutan Djuanda. Setelah Maman selesai di SMP Al-Huda, dia melanjutkan sekolah di SMU Bina Bangsa, itu pun setelah neneknya menjual apa yang dia bisa jual. Satu semester berjalan, dia mulai ditagih, sebab pembayarannya belum sepenuhnya lunas. Neneknya putus asa, dan dia akhirnya keluar. Sebenarnya, neneknya pun punya lelaki baru yang menjadi kakek tirinya, tapi kakeknya ini tidak bisa membiayai hidup istrinya dan Maman. Kakek tirinya tidak punya profesi tetap, juga jarang serumah dengan istrinya. Mungkin dia punya istri lain, entahlah.
Saat Kak Angga memutuskan menjadi donatur, Maman mulai sekolah di SMA Al-Burhan. Terlambat satu tahun, tak masalah bagi kepala sekolah. Untungnya, kepala sekolah adalah kerabat Bu Dewi. Kak Angga beri dia sejumlah uang tiap bulan. Sebagian dipakai untuk bayar SPP, selebihnya ongkos angkot. Jika ada sisa, bisa buat dia jajan. Awalnya, dia mempercayai Maman bisa mengatur uangnya sendiri. Tapi kemudian, setelah lama berjalan, kepercayaan Kak Angga runtuh. Dia terima telepon dari kepala sekolah, memberi tahu bahwa SPP Maman belum lunas 8 bulan. Dia dan Mbak Anug murka. Mereka dan Bu Dewi kumpul, berbincang, lalu memutuskan cari tahu. Setelah bertamu, bertemu dengan nenek Maman, bertemu dengan Ibu Maman yang tak selang berapa lama kembali lagi ke rumah, mereka akhirnya mengerti seluk beluknya. Donasi Maman ditilep, oleh nenek dan ibunya sebab memang mereka pun butuh makan. Lelaki yang kemudian dinikahi oleh ibunya, menjadi ayah tirinya, tak jauh beda dengan kakek tirinya: tidak tinggal bersama dan tidak bisa biayai keluarga. Ibunya ingin buka usaha tapi tak punya modal. Pilihan terakhir mereka, meski tidak aman, adalah mengambil uang SPP Maman yang dikonversi menjadi nasi dan lauk.
Kak Angga lalu memutuskan bahwa SPP ditanganinya sendiri, tanpa ada campur tangan Maman. Hanya ongkos angkot yang dia beri langsung. Ongkos angkot ini kemudian Maman serahkan ke ibunya. Mengetahui jumlah yang diberikan Kak Angga, lalu membandingkannya dengan uang yang Maman terima setiap hari, saya berpikir ada sisa yang mungkin Ibunya gunakan untuk hidup keluarga. Bagaimana polanya, saya tidak begitu paham, sebab saya sendiri tidak pernah bertamu di rumahnya. Saya dengar dari Kak Angga, bulan-bulan ini ayah tirinya tinggal di rumah. Ayah tirinya sedang bekerja sebagai kuli bangunan tak jauh dari rumahnya. Sedikit banyak, itu membantu keberlangsungan hidup keluarganya.
“Cape ah, Man. Hayang diuk, balik yuk,” ajak saya. Pagar toko yang biasa dipakai duduk basah oleh hujan. Mendengar ajakan saya, dia bersuara cukup keras, tanda mengeluh. Saya memaksa, dan dia akhirnya setuju. Meski saya lebih dulu harus mengiyakan persyaratan dia, “Tong bebeja he eh, urang tos traktir.” Siap! **
Catatan:
Pengajar hari itu, Arfah, Umar, Rizki, Magi, Angga, Anug, Imoth, Primus, dan Novi. Muridnya juga banyak, Ita, Ika, Nita, Elsa, Wina, Risna, Dede, Aji, Elsi, Maman, Ceceng, dan anak-anak lain yang saya lupa. Lupa juga saya mesti catat nama lengkap tiap anak yang datang.