Bertamu ke Rumah Pintar
Meski sudah siang, ratusan anak-anak berseragam merah-putih masih berbaris mengikuti lajur sisi jalan berbatu. Ada juga yang berseragam pramuka. Mereka mengibarkan bendera kecil, bersorak tiap kali ada mobil lewat. Ibu-ibu dan balita ikut bergerombol di balik mereka, nyaris memenuhi setengah lapangan hijau yang gembur di sekitar mulut rangkaian tiang bambu yang dijadikan gawang. Hari itu, Sabtu, 7 Agustus lalu, warga Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, bukan berpesta kemerdekaan lebih awal, tapi sedang merayakan kegembiraan kolektif bahwa desa mereka yang berada puluhan kilometer dari pusat kota, mesti ditempuh kurang lebih sejam dengan kendaraan bermotor, melintasi jalan terjal di tengah gunung-gemunung dan puluhan vila yang tersebar di balik lembah, dikunjungi oleh orang nomor satu di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan Rumah Pintar yang didirikan di sana menjadi alasan utama kunjungan tersebut.
Seperti layaknya rumah pedesaan di pelosok Jawa Barat, Rumah Pintar, yang biasa disingkat Rupin, di Kampung Gambung, berdiri di atas pondasi-pondasi setengah telanjang, membuat lantainya tak menyentuh tanah. Memasukinya mesti naik tangga kecil yang terbuat dari kayu berwarna gelap. Hanya saja, rumah tersebut lebih sering diisi oleh riang dan bawel anak-anak setingkat Sekolah Dasar. Priskorin Sinaga, perempuan kecil kelas tiga SD Cisondari II, yang menyukai kuning, merah dan kupu-kupu, berkata malu-malu saat ditanya mengenai Rupin, “Di sana, (saya, red) diajarin baca, nulis.” Beberapa temannya menambahkan bahwa Rupin juga membantu mereka belajar berhitung, membuat puisi dan menggambar.
Rupin merupakan sentral pengembangan potensi masyarakat desa yang dibangun pada 2007 oleh Satoe Indonesia, sebuah organisasi sosial yang lahir dari gagasan dan gerakan mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Dalam pembangunannya, mereka dibantu oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dan instansi lainnya. “SIKIB menyumbang Mopin (Mobil Pintar, red), lalu Satoe Indonesia bekerjasama dengan antropolog UNPAD membuat social mapping di 3 tempat. Satoe Indonesia akhirnya memilih Ciwidey karena merupakan tempat yang paling potensial berdasarkan riset,” jelas Daymas Ryan Dipo, Co-coordinator of University and Organization Relationship Satoe Indonesia. Sejauh ini, Satoe Indonesia telah mendirikan Rupin di dua kampung di sekitar kawasan Ciwidey, yaitu Kampung Papakmanggu dan Kampung Gambung. Dana awalnya berasal dari keuntungan yang diperoleh dari turnamen golf yang sebelumnya mereka adakan.
Satoe Indonesia memutuskan diri hanya berperan sebagai fasilitator dalam pemberdayaan sumber daya masyarakat desa. Oleh karena itu, dalam pengembangan potensi desa, Satoe Indonesia mendesain sedemikian rupa agar masyarakat menjadi pelaku sekaligus peserta. Tidak hanya di bidang pendidikan, pengembangan tersebut pun dilakukan melalui kegiatan-kegiatan lain yang tak lepas dari unsur kelokalan terkait di bidang keagamaan, kebudayaan, kesenian, dan bisnis. “Kalo Sabtu-Minggu sore, anak-anak pada belajar, kalo hari lain pengajian. Kadang-kadang juga ada latihan angklung atau jaipongan, apalagi kalo ada undangan pertunjukan. Sebagian besar pengajarnya dari sini juga,” jelas Mella Ramlan, siswa kelas tiga SMA I Ciwidey yang menjadi Sekretaris Rupin Papakmanggu sekaligus relawan pengajar di sana.
Untuk kegiatan bisnis lokal, Satoe Indonesia menjadi mentor bagi masyarakat desa. Atas kerjasama tersebut, masyarakat Ciwidey telah memiliki usaha peternakan ayam dan sapi. Selain itu, pengembangan bisnis lokal juga melahirkan produk unggulan Ciwidey, seperti sayuran organik dan teh putih, yang kini bersaing dalam pasar nasional. Produk tersebut telah beberapa kali mengikuti acara yang bertemakan lingkungan, seperti One Village One Product (OVOP).
Sebagai usaha pengembangan komunikasi, Satoe Indonesia merancang radio komunitas di Rupin Gambung. Pengurus Rupin menamakannya Tumaritis FM dengan frekuensi 107,9 MHz yang memiliki jarak jangkauan satu kecamatan. Stasiun radio tersebut diharapkan menjadi media hiburan, berita dan pendidikan, khusus bagi masyarakat Kampung Gambung.
Siang Sabtu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya disambut oleh 8 anak binaan Rupin Gambung. Mereka menari jaipong di halaman Rupin, sementara warga masih bersorak dari arah lapang sebelah kanan, meminta sang presiden mendekat. Beberapa meter ke depan, di tanah yang lebih rendah, tiga mobil dengan sisi-sisi badan yang terbuka, parkir: Mobil Pintar yang berisikan buku-buku anak sumbangan mahasiswa SBM ITB, mobil perpustakaan dari Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung, dan mobil komputer dari Departemen Komunikasi dan Informasi. Selain anggota SIKIB yang datang lebih awal, kegiatan kunjungan juga dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Juru Bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha, Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan, Bupati Kabupaten Bandung Obar Subarna, Rektor ITB Akhmaloka, dan Dekan SBM ITB Dermawan Wibisono.
Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan imbas positif atas penobatan Rupin Satoe Indonesia sebagai Rumah Pintar 2010. Kunjungan tersebut akan menjadi titik keberangkatan yang tepat dalam mempererat hubungan Satoe Indonesia dengan instansi pemerintahan. Saat press conference, Presiden mengucapkan terima kasih pada relawan yang membantu pembangunan Rupin. “Rumah ini penting, memiliki fungsi yang luar biasa. Saya salut pada mahasiswa ITB dan pihak-pihak yang mengembangkan Rumah Pintar ini. Saya akan menambah fasilitas (Rupin, red). Saya ingin anak-anak pelosok disentuh agar bisa membangun kreativitas,” katanya. []
*Artikel ini dimuat di Berkala ITB edisi Agustus 2010