Emil Tak Sempat Jadi Bupati
Di Swedia, pada 1963, lahir tokoh cerita anak. Emil namanya. Umurnya 5 tahun. Wajahnya seperti malaikat kecil, berambut pirang dan agak keriting. Tapi badungnya bikin penduduk Katthult, tempat kelahirannya, resah. Bayangkan saja, Emil pernah mengerek Ida, adiknya, hingga ke ujung atas tiang bendera, membuat salah satu warga mengira itu bendera Denmark sebab saat itu Ida mengenakan baju merah dengan pita putih di sekeliling perutnya. Penduduk Katthult jadi punya ide. Mereka sepakat mengumpulkan uang, dan berniat mengirimkan Emil ke Amerika. Tentu saja mereka tak akan melakukan itu jika saja mereka sedari awal tahu bahwa Emil akan jadi bupati saat besar nanti.
Indonesia juga punya Emil. Berbeda dengan Swedia, Emil ‘Indonesia’ lebih senang berpetualang dibanding merecoki orang lain. Sehabis hujan, ia bersama teman-temannya sering masuk hutan. Bukan apa-apa, mereka berburu durian yang sudah pasti jatuh ditimpa angin. Selain makan durian gratis, Emil ‘Indonesia’ juga banyak belajar dari hutan. Apalagi setelah ia mengenal Winnetou karya Karl May. Emil ‘Indonesia’ jadi merasa seperti Shatterhand, mampu menjelajahi hutan dan merobohkan orang yang tinggi besar dengan sekali pukulan. Saat menjadi Shatterhand, ia mungkin tidak mengira bahwa citanya menjadi orang Indian akan berubah arah menjadi penggerak konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dialah Prof. Dr. Emil Salim, mantan Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup 1978 – 1983, dan mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup 1983 – 1993.
Emil Salim lahir di Lahat, Sumatera Selatan, 79 tahun lalu. Masa kecilnya akrab dengan hutan di kaki bukit Selero. Dia pun senang membaca karya-karya Karl May. Baginya, membaca Karl May, juga memahami kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran, dan ke-Tuhan-an dalam melestarikan alam. Selepas SMA, dia studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang kemudian ia lanjutkan di University of California Barkeley. Saat kuliah di Universitas Indonesia, Emil menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Dia senang sekali mengundang rapat para anggota dewan, bahkan saat hari libur. Tapi pada suatu waktu, rapat hari Minggu tak ada. Sosok dia pun lenyap setiap libur. Sejak saat itu, setiap hari Minggu anggota dewan tak perlu lagi repot berkumpul untuk rapat. Selidik punya selidik, Emil ternyata mulai sibuk berpacaran. “Boleh saja, setiap hari masa itu Bung Karno berteriak ‘revolusi belum selesai’, tapi bagi Emil Salim, segala macam kegiatan, bahkan sampai revolusi pun, harus berhenti pada hari Minggu,” kata Wisaksono Noeradi, salah seorang sahabat Emil. (Prof. Dr. Emil Salim: Revolusi Berhenti Hari Minggu, Kompas, 13 Juli 2000)
Sepulangnya dari Amerika Serikat, Emil bersama lulusan Barkeley lainnya, mulai melakukan rekonstruksi perekonomian Indonesia. Bagi Emil, perekonomian Indonesia seharusnya bermodelkan mixed system antara kapitalis dan komunis, dengan nuansa Islam. Mengenai korupsi, Emil mengatakan itu adalah akibat adanya keterkaitan dan kondisi saling ketergantungan yang diciptakan masyarakat dan pejabat. Oleh karena itu, menurut Emil, perlu keterlibatan rakyat secara maksimal untuk mengontrol tindak tanduk pejabat.
Keterlibatan Emil dalam bidang ekonomi membuatnya paham bahwa lingkungan adalah satu hal yang sangat krusial. Emil melihat perkembangan ekonomi di Indonesia seringkali tidak memedulikan dampak lingkungan. Oleh karena itu, Presiden Soeharto saat itu membentuk Kementerian Lingkungan Hidup dengan Emil Salim sebagai menteri pertama. “Terlepas dari eranya, bahwa yang memasukkan persoalan-persoalan lingkungan hidup, bahwa membangun itu gak boleh merusak, ya itu kan sejak ada kementerian itu (Emil Salim, red.),” kata Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, dosen Program Studi Teknik Lingkungan.
Emil memahami bahwa pembangunan melalui bidang ekonomi memang sangat diperlukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, tetapi perlu pula mempertimbangkan lingkungan dengan melakukan pembatasan eksploitasi sumber daya alam dan pencegahan pencemaran. Inilah yang disebut sebagai konsep pembangunan berkelanjutan.Saat menjabat menteri lingkungan hidup, Emil memasukkan konsep tersebut di setiap penyusunan regulasi. Maka, setiap proyek harus dijalankan dengan konsep ‘berkelanjutan’. Misalnya saja proyek pembangunan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Kota Panjang, Riau. Keterlibatan konsep Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dikenalkan oleh Elim pada proyek tersebut membuat candi Muara Takus yang terancam tenggelam, selamat.
Kontribusi Emil pada pelestarian lingkungan di Indonesia menjadi pertimbangan Institut Teknologi Bandung untuk memberikannya gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) pada 4 Juli 2009. Enri, Ketua Tim Promotor Emil Salim, mengenal Emil melalui karya-karyanya. “Integritasnya tinggi, memang sulit dicari, pandai sekali beliau (Emil Salim, red.),” kata Enri. Pemikiran Emil yang mengintegrasikan konsep ekonomi dan lingkungan dalam pembangunan, menurut Enri, terus konsisten. Walau usia senja, Emil masih tetap aktif dan bugar. Kini, Emil memimpin Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati). Emil jelas masih terus ingin melestarikan alam dan lingkungan Indonesia. Sayang, Emil Salim tak sempat menjadi bupati di tempat asalnya, seperti Emil ‘Swedia’.[]
Printed version: Berkala ITB
Juli 7, 2009 at 2:02 pm
fah. tulisan lo makin lama makin bagus. gue iri