Pippi Bisa Jadi Penyamun

Satu malam di bulan November, Pippi mengajak Thomas dan Annika melihat hantu di lotengnya. Thomas tak mau dibilang penakut, sementara Annika memilih ikut dibanding harus ditinggal sendiri. Maka keduanya menaiki tangga mengikuti Pippi sambil berpegangan.

“Mereka sedang menghadiri pertemuan Perkumpulan Hantu dan Momok,” kata Pippi setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di lotengnya. Pippi malah menemukan sebuah peti peninggalan ayahnya. Dia bongkar muatannya, lalu membawanya turun ke dapur. Sebuah teropong, beberapa buku tua, tiga pucuk pistol, sebilah pedang, dan sekantong uang emas.

Pippi mengenggam salah satu pistol lalu menarik pelatuknya.

DOR! DOR!

Dua peluru melubangi langit-langit dapur. Pippi sama sekali tidak merasa takut atas apa yang telah dilakukannya. “Peluruku mungkin telah melukai kaki seorang hantu di sana, biar tahu rasa!” serunya.

Pippi lalu menawarkan pistolnya pada Thomas dan Annika, yang kemudian disanggah sendiri olehnya, “Ah, jangan – kurasa lebih baik kita kembalikan saja ke dalam peti. Pistol bukan mainan anak-anak!”

**

Pippi menembak dengan pistol beneran adalah satu “permainan” dari sekian banyak aksi yang dilakukan Pippi dalam buku “Pippi Si Kaus Panjang” karya Astrid Lindgren (Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Mei 2005). Tapi bukan soal kelakukan Pippi yang akan dibicarakan di sini, melainkan perubahan karakteristik dan tingkah lakunya dalam sebuah teks saat mengalami translasi.

Pippi kali pertama hadir di Swedia pada 1945 dengan judul Pippi Långstrump (Penerbit Rabén & Sjögren Bokförlag AB). Kemunculannya disambut baik oleh anak-anak Swedia kala itu. Setahun kemudian, John Landqvist, seorang kritikus literatur anak Swedia, memulai perdebatan mengenai moralitas Pippi. John mengatakan bahwa Pippi adalah sosok yang tak wajar, memiliki karakter pemberontak yang ia sebut Pippifejden (dendam Pippi). Kritikus negara lain berpendapat bahwa Astrid berfantasi berlebihan di bukunya, dan ini kelewat bahaya bagi anak-anak.

Negara-negara Eropa yang ingin menerjemahkan Pippi Långstrump ke dalam bahasanya melakukan tindakan adaptasi. Beberapa aksi Pippi yang dianggap aneh dilitsus sedemikian rupa agar sesuai dengan budaya target pembaca, setidaknya begitu menurut penerjemah. Jerman, misalnya, menganggap Pippi kelampau subversif bagi anak-anak Jerman. Lewat tangan Cäcilie Heinig, gaya inovatif Swedish Astrid Lindgren dikurangi. Contohnya saja, jamur beracun yang digigit Pippi hanya atas dasar keingintahuan, diganti menjadi jamur biasa yang layak makan. Maka pada 1965, Pippi Langstrumpf terbit.

Prancis mengambil langkah yang lebih dasyhat. Nama Pippi diganti menjadi Fifi. Penerbit Prancis tak seberani Jerman yang mengambil resiko nama, sebab pipi dalam kedua bahasa tersebut berarti pipis. Astrid tidak begitu ambil pusing soal pergantian nama, tapi ia sempat protes pada penerbit Prancis mengenai Fifi yang digambarkan hanya mampu mengangkat kuda kerdil, tidak seperti Pippi yang bahkan kuat mengangkat sapi betina ke pinggir jalan setapak. Penerbit Prancis (1969) membantahnya, “Aksi itu mungkin saja layak meyakinkan anak-anak Swedia bahwa tiap dari mereka mampu mengangkat kuda dewasa, tapi bagi anak-anak Prancis, yang baru saja melalui perang dunia, terlalu sulit menelan cerita berlebihan semacam itu secara kolektif”.

Terlepas berhasil atau tidak apa yang dilakukan oleh penerbit Jerman dan Prancis, setidaknya mereka telah melakukan analisis nilai dan norma yang terkandung dalam Pippi Långstrump. Pemahaman konteks ekstra-tekstual dan komunikasi intra-tekstual terhadap teks asli yang mereka lakukan menuntun mereka dalam proses penerjemahan. Jelas, kritik atas penerjemahan literatur anak akan menanyakan sejauh mana nilai-nilai teks asli ditransformasikan sesuai dengan target pembaca. Tentu transformasi ini harus memperhitungkan konteks norma pembaca dalam perubahan waktu, bahasa, dan budaya, dengan tetap menjadikan pendidikan sebagai menu utama. Göte Klingberg (1986) menyebut proses ini dengan istilah purification: membawa teks menuju kesesuaian dengan sekumpulan nilai-nilai baru.

Lucu jadinya saat mengetahui aksi tembak Pippi di awal tulisan ini ternyata hasil penerjemahan dari terjemahan teks asli yang telah dilakukan begitu serius oleh penerbit negara lain sesuai kondisi anak bangsanya. Tampaknya kita butuh ahli bahasa dan budaya Swedia yang juga memahami kebutuhan anak Indonesia, agar penerbit utama kita itu tak perlu repot mencari orang, dan pada akhirnya kita bisa saja tahu ternyata Pippi tak mengembalikan pistolnya ke dalam peti, lalu mengajak Thomas dan Annika jadi penyamun, itu kalau mereka mau.[]

Explore posts in the same categories: Literasi

One Comment on “Pippi Bisa Jadi Penyamun”

  1. dwihutapea Says:

    arfah…saya kunjungi blog kamu..hahahaa…
    tapi saya belum baca tentang si Pippi ini…panjaaaang banget..huhuuu


Comment: