Gajah, Setelah Ia Melintas Waktu

Lima puluh tahun lalu, Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, dan sejumlah guru besar lainnya berkeliling kampus. Saat melewati gerbang depan, mereka berhenti. Dua patung gajah di sisi kanan dan kiri gerbang membuat mereka berpikir. Spontan mereka sepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang institut dari patung tersebut.

Institut Teknologi Bandung yang saat itu masih sebagai Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Djakarta menugaskan Srihadi S., pelukis muda dari Bagian Seni Rupa, untuk merancang gambar dua dimensi dari sosok gajah. Gambar ini kemudian digunakan sebagai logo institusi sejak 2 Maret 1959, tanggal peresmian ITB.

Gambar gajah berasal dari mitologi Hindu, yaitu Ganesha, dewa ilmu pengetahuan. ITB sepakat menyebutnya ‘gambar gajah’ ketimbang gambar Ganesha, demi menghindari kesalahan pengertian atau konotasi. Tiap bagian dari gambar gajah memiliki makna tertentu. Misalnya gading patah yang digenggam adalah pengorbanan untuk ilmu, cawan adalah kebijakan, tasbih adalah kearifan, kampak adalah daya juang, dan sebagainya. Simbolisasi pada tiap bagian gambar gajah kemudian ditransformasi menjadi logo identitas.

Sebelum lahir ITB yang diikuti dengan penciptaan logo bergambar gajah, Universitas Indonesia Djakarta memiliki logo bergambar stilasi pohon pisang kipas yang saat itu banyak tumbuh di halaman depan kampus di Salemba, Jakarta. Logo ini pun menggantikan logo yang lebih lawas di tahun 1950. ITB yang saat itu bernama De Techniche Hoogeschool te Bandung, hanya mempunyai satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap dan satu jurusan de afdeeling der Weg en Waterbouw, menggunakan logo bergambar jangka. De Techniche Hoogeschool te Bandung didirikan pada 3 Juli 1920 oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan maksud memenuhi kebutuhan tenaga teknik.

Selama 20 tahun semenjak peresmian ITB, penggunaan logo bergambar gajah mulai serampangan. Proporsi gambar banyak yang berubah. Maka di masa kerektoratan Prof. Hariadi P. Soepangkat Ph.D. (1980 – 1988), dibentuk satu tim dari Desain Komunikasi Visual yang saat itu bernama Studio Desain Grafis, untuk memperhalus logo gajah agar lebih terukur. “Bahwa sebuah transisi atau sebuah logo memerlukan rentang kepantasan. Bentuknya tetap, gajahnya tetap, tapi adalah olah garisnya, bentuknya, semua lebih terukur secara matematis,” jelas Drs. Iman Sudjudi MSn., anggota tim refining logo saat itu, yang kini menjabat sebagai salah satu dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual. Iman menyebutnya sebagai upaya standardisasi dan konsistensi.

Konfigurasi lengkap dari logo resmi ITB memuat tipografi ‘Institut Teknologi Bandung’ di bawah topogram gajah dengan letak yang simetris. Dalam penggunaan logo tersebut, konfigurasi lengkap tidak mesti dihadirkan. Tak masalah jika hanya menggunakan gambar gajahnya, tergantung pada format dan kepentingan media. Logo berblok hitam atau hanya berupa garisnya saja (positif atau diapositif) pun tergantung pada bidang media. Logo resmi ITB biasanya digunakan untuk kebutuhan formal, seperti tugas akhir.

Demi kepentingan publikasi, sekitar tujuh tahun lalu, saat kerektoratan Dr. Kusmayanto Kadiman (2002 – 2004), lahir logotype, logo yang berbasis dari huruf. Selain gambar gajah dengan outline biru, logo tersebut memuat “ITB” dan “Institut Teknologi Bandung”, juga dengan warna biru. Pada periode 2008 – 2009, logo berganti dua kali. Logotype diganti dengan logo lingkaran dengan tipografi ‘Institut Teknologi Bandung . 1959 .’ yang memutari gambar gajah, kemudian diganti dengan logo lingkaran bergambar sama tapi bertipografi berbeda, ‘Institut Teknologi Bandung . 1920 .’.

Tipografi tahun yang berbeda pada kedua logo terakhir, bukan masalah bagi Iman. “Tidak perlu dipersoalkan, 1959 dan 1920. Tapi adalah untuk kepentingan taktis dan strategis,” kata Iman. Untuk menjadi universitas kelas dunia, menurut Iman, perlu memerhatikan bagaimana image kemapanan sebuah perguruan tinggi. Logo 1920 menunjukkan 89 tahun usia pendidikan teknik di Indonesia, dan logo 1959 memperlihatkan 50 tahun umur Institut Teknologi Bandung.

Di usia yang telah mencapai emas, ITB bakal merayakan diesnya. Sebuah perhelatan besar akan dilaksanakan. Logo lagi-lagi diperlukan. Kali ini, angka 50 didistilasi dalam bentuk gajah. Logo publikasi diletakkan di atas lengkungan belalai, dan emas dilingkungi oleh angka 0 yang nyaris sempurna. “Gajah yang sifatnya futuristik, lebih menerawang masa depan, visioner,” ungkap Iman mengenai ide logo tersebut.

Logo Dies Emas hanya berlaku selama event. Sifatnya tidak tetap. Berbeda dengan logo bergambar gajah yang sifatnya pakem. Gajah adalah logo identitas, tidak akan berubah sampai terjadi perubahan kebijakan. Logo adalah semangat, simbol komitmen dari suatu lembaga, dan representasi jaman. “Image-nya sebaiknya konsisten,” jelas Iman.

Perubahan logo ITB, baik sebagai identitas maupun untuk kepentingan publikasi, menunjukkan dinamika jaman, dinamika ITB. Setiap logo tetap tidak melepaskan unsur gajah yang menurut Iman telah dianggap sakral. Dan setiap logo selalu beraura biru. Dalam proses kesejarahan, tiba-tiba tanpa kesengajaan, ITB memilih biru. “Suatu kesepakatan secara emosional bahwa biru itu adalah saya,” kata Iman. Biru menunjukkan rasionalitas, intelektualitas, teknologis, dan berwawasan ke depan. Prof. Emeritus A. D. Pirous, mahasiswa angkatan 1955 Bagian Seni Rupa dan sempat diangkat menjadi Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain pada 1984, dalam tulisan ‘Nostalgia Kampus ITB, Dalam Lima Aura Warna’, merasakan biru sebagai kenangan peristiwa kelahiran ITB. “Hal-hal kecil yang bermakna besar, hal-hal sepele yang memberikan nilai, setelah ia melintas waktu.”[]

Artikel ini dimuat di Newsletter Dies Emas ITB edisi Januari 2009

Explore posts in the same categories: Kampus

Comment: