Jika Ikan Paus Punya Sayap

Posted Oktober 19, 2009 by marfahd
Categories: Terjemahan

Jika ikan paus punya sayap,
hidup mereka akan penuh dengan tingkah laku yang menggelikan

mereka akan terbang di langit
mereka akan mengusik burung-burung
mereka akan memainkan sebuah alat aneh dan berpura-pura menjadi pilot pesawat
mereka akan menyembunyikan matahari saat tepat pada siang
mereka akan bersandar dengan lembut di atas kawat listrik
mereka akan mengeram telur-telur mereka seperti yang lain lakukan
dan jika mereka juga punya paruh, bulu, dan dua kaki, kita tak akan lagi memanggilnya “ikan paus” tapi “burung”, dan begitulah!

* “Jika Ikan Paus Punya Sayap” adalah terjemahan dari buku cerita bergambar Prancis, “Si Les Baleines Avaient Des Ailes” (Casterman, 2000), karya Florence Langlois

Aku Ingin Bayi Gajah

Posted Juli 29, 2009 by marfahd
Categories: Terjemahan

Guillame, pecinta binatang.  Dia punya seekor anjing, seekor hamster, kura-kura, ikan-ikan merah, dan dua ekor kucing. Dan semua itu belum cukup baginya!

Pagi ini, dia duduk lembut di atas lutut ibunya. Dia lalu berbicara pelan.

“Tahukah kau, Mama, aku sangat mencintai…”

“Mencintai apa?”

“Seekor binatang kecil.”

“Lagi?” kejut Ibu. Dia mengerti Guillame ingin binatang baru. “Lagi-lagi harus memberi makan, memandikan, menyisir, merawat saat ia sakit, mengajaknya jalan-jalan keluar.”

“Mama, aku mohon…”

“Hmm…binatang apa?” Ibu mulai melemah.

“Ayo tebak!” Guillame mengajak ibunya bermain.

“Coba kita lihat. Seekor tikus putih kecil?”

“Ah bukan! Jika aku memilikinya, dia akan melarikan diri dan mendatangi tempat tidurku tiap malam.”

“Seekor burung beo?

“Bukan juga! Jika aku memilikinya, dia akan mengulangi semua yang aku lakukan, semua yang aku katakan.”

“Seekor monyet kecil?

“Bukan pula! Jika aku memilikinya, dia akan mengacaukan puzzle-ku dan merusak prajurit-prajuritku.”

“Kalau begitu, pasti seekor burung kenari?”

“Itu pun bukan! Jika aku memilikinya, dia akan menyanyi dan membangunkanku terlalu pagi.”

“Aku tak bisa jawab. Aku menyerah,” kata Ibu pasrah.

“Hehe, baiklah. Dia seekor… seekor… seekor gajah!” teriak Guillame merasa menang.

“Seekor gajah?” kali kedua Ibu terkejut.

“Iya, tapi yang kuinginkan kecil, tidak besar. Seekor bayi gajah.”

“Kau tahu kalau itu akan mengganggu?” tanya Ibu. “Seekor bayi gajah akan tumbuh dewasa, membesar, dan sangat merepotkan.”

“Aku tahu, Mama, tapi dia akan menjadi teman yang baik. Dia akan merapikan mainan-mainanku. Saat kau masuk ke kamarku, kau akan bebas melangkah. Layanganku tergantung di dinding, bolaku tersimpan di ketinggian, dan dia tahu jika akan mencarinya. Aku jadinya tidak akan mengganggumu lagi saat kau sedang merajut lengan baju sebuah rompi,” Guillame merajuk. Ibu hanya diam mendengarkan.

“Ketika kau mulai lelah, kami akan membantu. Kami akan membersihkan piring-piring, lantai, segala pekerjaan yang memang mesti dilakukan. Di musim panas, dia akan membantuku membuka jalan di tengah duri-duri dan belukar, dan aku akan pulang membawa berbagai macam buah di tangan untuk membuat agar-agar,” lanjut Guillame.

“Lalu, saat Mardi Gras*, kau akan bangga terhadapku. Dia akan mengantarku ke tengah perayaan dalam kostum dansa, dan aku menjadi raja termasyhur,” cerita Guillame.

Ibu tersenyum. Dia berdiri mengangkat Guillame dalam pelukan, dan berbisik, “Baiklah.”

Seekor bayi gajah akan memberi warna.[]

* Hari terakhir karnaval sebelum puasa Rabu Abu di bulan Februari (Katolik). Hari ini disebut Shrove Tuesday dalam bahasa Inggris.

“Aku Ingin Bayi Gajah” merupakan terjemahan dari cerita anak Prancis berjudul “Un éléphant, c’est épatant!” yang ditulis oleh Geneviève Laurencin.

Kisah Kita Tak Akan Selesai

Posted Juli 16, 2009 by marfahd
Categories: Literasi

Jika benar apa yang ditulis Alan Woods dalam artikel “Iran: Brumaire XVII Mahmoud Ahmadinejad” (15 Juni 2009) yang mengatakan bahwa gerakan kaum muda Iran saat ini sebagai tahapan revolusi yang sedang dilakukan oleh kaum Marxis, tampaknya kelas pekerja Iran perlu kembali mengingat satu cerita anak berbahasa Persia, “Ma’hi-e Sia’hie Kochoulou” (1968), karya Shamad Behrangi, yang sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Eric Hooglund pada 1976 dengan judul “The Little Black Fish”.

The Little Black Fish adalah ikan berwujud aneh yang lahir di suatu sudut sungai. Dia berteman dengan satu siput, berwacana, lalu kemudian ia berpikir untuk mencari titik akhir sungai. Tetangga-tetangganya mencibir, bahkan juga ibunya, “Oh, anakku, apa kau gila? Dunia hanya di sini, tempat kita berada.” The Little Black Fish malah membantah, “Saya tidak mau terus berpura-pura senang di sini hingga suatu hari saya bangun dan melihat diri saya seperti kalian, menjadi tua, tapi masih saja bodoh.” The Little Black Fish lalu pergi mengikuti arus, bertemu kecebong yang sombong, segerombolan ikan kecil yang kompak, dan seekor gembala yang memahami kerasnya hidup, bahkan dia sempat melihat perempuan-perempuan desa yang sedang mencuci di sisi sungai.

Semangat The Little Black Fish menunjukkan bahwa ia sadar akan lingkungan lamanya. Dia merasa butuh pengalaman dan pengetahuan lebih dengan cara menjelajahi dunia, hingga akhirnya ia menemukan laut yang menandakan kebebasan. Bebas bukan berarti aman. The Little Black Fish justru mesti menghadapi burung pelikan dan burung bangau. Dia memahami bahwa sekalipun itu kematian, ia mesti punya dampak positif bagi hidup orang lain. Kekuatan cerita dibalik The Little Black Fish tersebut membuat karya Shamad ini begitu subversif, setidaknya pada jamannya.

Shamad lahir pada Juli, 1939, di Charandab, daerah selatan Tabriz, dalam keluarga pekerja. Setelah lulus dari Teacher Traning Academy pada 1957, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar di berbagai desa di Azerbaijan, propinsi asalnya. Shamad mengajar ilmu berhitung dan membaca pada anak-anak kelas bawah, sebab ia meyakini kelas pekerja membutuhkan sebuah pemahaman keilmuan dalam rangka mempersenjatai diri demi mengubah masyarakat. Keyakinan ini pula yang dijadikan dasar oleh Shamad setiap ia membuat cerita anak, puisi dan esai pedagogi. Di usia 29 tahun, Shamad meninggal. Mayatnya ditemukan mengambang di sungai Araz, perbatasan Iran dan Republik Azerbaijan. Masyarakat menduga Shamad dibunuh oleh agen rezim Pahlavi yang memimpin Iran saat itu. Setelah Shamad meninggal, hampir semua karyanya dipublikasikan berkat koleganya, Behrooz Dehghani. “The Little Black Fish” bahkan memperoleh sejumlah penghargaan literatur anak, yaitu Honorary Diploma pada Biennale Illustratione Bratislava (1969), Graphic Prize pada Bologna Children’s Book Fair (1969), Iran’s Children’s Book Council Award (1980), dan The International Board on Books for Young People Honour List (1982).

“The Little Black Fish” lahir di jaman represif dinasti Pahlavi. Ahmad Karimi-Hakkak (1976) menggolongkannya ke dalam literatur Persia modern abad ke-20 yang memiliki karakteristik khusus. Setiap penulis fiksi berbahasa Persia pada masa itu menyisipkan permasalahan lingkungan sosial ke dalam karya mereka dengan pola dan struktur tertentu, tentu dengan ideologi masing-masing: Jamalzadeh dengan optimisme liberalnya, Alavi dengan paham sosialisnya, atau Hedayat dengan kekecewaaan progresifnya. Bagi Shamad sendiri, literatur anak seperti membangun jembatan antara dunia mimpi penuh fantasi dan dunia nyata yang penuh intrik dan ketidakadilan.

Perkembangan literatur Persia modern seperti bukti lahirnya masa renaissance baru di Iran. Sedikit banyak ia menjadi bagian penting dalam Revolusi Iran yang terjadi pada Februari 1979. Tiga juta orang turun ke jalan dengan mobilisasi terbesar sepanjang sejarah Iran. Kekuatan Mohammad Reza Shah Pahlavi yang memimpin Iran saat itu seketika ambruk, lalu diambil alih Ayatollah Khomeini yang berasal dari kaum mullah. DR Zayar, dalam buku “Iranian Revolution; Past, Present and Future” (2000), menyebut revolusi ini sebagai ‘terungkapnya kekuatan kolosal kaum proletar’. Di bawah kepemimpinan Khomeini, Iran menjadi begitu Islam hingga setiap perempuan yang ingin keluar rumah wajib mengenakan jilbab.

Tiga puluh tahun setelah revolusi, kaum muda Iran kembali turun ke jalan menentang kembalinya Ahmadinejad menjadi presiden. Mereka meyakini Ahmadinejad, yang memegang kekuasaan saat pemilihan presiden berlangsung, melakukan kecurangan gila-gilaan. Para demonstran membakar tong-tong sampah dan bis, asap-asap hitam membumbung tinggi di antara gedung-gedung tinggi di Tehran, bahkan tujuh dari mereka menjadi korban penembakan polisi pada Senin, 15 Juni lalu. Jika benar kaum mullah telah kehilangan pamor dan Ahmadinejad tak lagi dapat digawangi oleh mereka, ada baiknya kamu muda dan pekerja Iran kembali mengingat apa yang pernah dikatakan Shamad: “Saya yakin kisah kita tak akan selesai. Suatu hari, tentu saja, kita akan melanjutkan dongeng ini.”[]

Printed version: Harian Umum Pikiran Rakyat