Guillame, pecinta binatang. Dia punya seekor anjing, seekor hamster, kura-kura, ikan-ikan merah, dan dua ekor kucing. Dan semua itu belum cukup baginya!
Pagi ini, dia duduk lembut di atas lutut ibunya. Dia lalu berbicara pelan.
“Tahukah kau, Mama, aku sangat mencintai…”
“Mencintai apa?”
“Seekor binatang kecil.”
“Lagi?” kejut Ibu. Dia mengerti Guillame ingin binatang baru. “Lagi-lagi harus memberi makan, memandikan, menyisir, merawat saat ia sakit, mengajaknya jalan-jalan keluar.”
“Mama, aku mohon…”
“Hmm…binatang apa?” Ibu mulai melemah.
“Ayo tebak!” Guillame mengajak ibunya bermain.
“Coba kita lihat. Seekor tikus putih kecil?”
“Ah bukan! Jika aku memilikinya, dia akan melarikan diri dan mendatangi tempat tidurku tiap malam.”
“Seekor burung beo?
“Bukan juga! Jika aku memilikinya, dia akan mengulangi semua yang aku lakukan, semua yang aku katakan.”
“Seekor monyet kecil?
“Bukan pula! Jika aku memilikinya, dia akan mengacaukan puzzle-ku dan merusak prajurit-prajuritku.”
“Kalau begitu, pasti seekor burung kenari?”
“Itu pun bukan! Jika aku memilikinya, dia akan menyanyi dan membangunkanku terlalu pagi.”
“Aku tak bisa jawab. Aku menyerah,” kata Ibu pasrah.
“Hehe, baiklah. Dia seekor… seekor… seekor gajah!” teriak Guillame merasa menang.
“Seekor gajah?” kali kedua Ibu terkejut.
“Iya, tapi yang kuinginkan kecil, tidak besar. Seekor bayi gajah.”
“Kau tahu kalau itu akan mengganggu?” tanya Ibu. “Seekor bayi gajah akan tumbuh dewasa, membesar, dan sangat merepotkan.”
“Aku tahu, Mama, tapi dia akan menjadi teman yang baik. Dia akan merapikan mainan-mainanku. Saat kau masuk ke kamarku, kau akan bebas melangkah. Layanganku tergantung di dinding, bolaku tersimpan di ketinggian, dan dia tahu jika akan mencarinya. Aku jadinya tidak akan mengganggumu lagi saat kau sedang merajut lengan baju sebuah rompi,” Guillame merajuk. Ibu hanya diam mendengarkan.
“Ketika kau mulai lelah, kami akan membantu. Kami akan membersihkan piring-piring, lantai, segala pekerjaan yang memang mesti dilakukan. Di musim panas, dia akan membantuku membuka jalan di tengah duri-duri dan belukar, dan aku akan pulang membawa berbagai macam buah di tangan untuk membuat agar-agar,” lanjut Guillame.
“Lalu, saat Mardi Gras*, kau akan bangga terhadapku. Dia akan mengantarku ke tengah perayaan dalam kostum dansa, dan aku menjadi raja termasyhur,” cerita Guillame.
Ibu tersenyum. Dia berdiri mengangkat Guillame dalam pelukan, dan berbisik, “Baiklah.”
Seekor bayi gajah akan memberi warna.[]
* Hari terakhir karnaval sebelum puasa Rabu Abu di bulan Februari (Katolik). Hari ini disebut Shrove Tuesday dalam bahasa Inggris.
“Aku Ingin Bayi Gajah” merupakan terjemahan dari cerita anak Prancis berjudul “Un éléphant, c’est épatant!” yang ditulis oleh Geneviève Laurencin.