Saya dan Oklahoma

Posted November 16, 2009 by marfahd
Categories: Saya

Setelah berulang-ulang mendengar lagu Billy Gilman satu folder lewat winamp dan membaca halaman 153 ‘Harry Potter dan Relikui Kematian’ (“… tiba-tiba saja Harry merasakan gelombang penyesalan bagi segala kerepotan dan penderitaan yang ditimpakannya kepada Mrs Weasley”), saya jadi teringat apa yang saya lakukan sekitar 8 tahun lalu di ruang tamu rumah kontrakan yang hanya beberapa meter dari kosan saya sekarang, dan juga setelahnya.

Di atas karpet plastik bermotif papan catur, saya menempelken telinga kanan saya. Wajah saya menghadap radio, dan saya diam selama lagu itu dimainkan. Saya akan menekan stop begitu lagu itu berhenti, me-rewind-nya, lalu memutarnya kembali. Terus, dan terus. Hingga sore. Hingga suara gerak pagar terdengar, dan saya merasa perlu untuk tidak meninggalkan jejak di radio.

Saya membawa kaset itu ke sekolah, tentu saja. Saya cerita ke Fanny yang sebangku dengan saya. Saya cerita pula ke kawan kecil saya yang berkepang panjang yang duduk di depan kami. “Lagu-lagunya bagus loh,” bilang saya pada mereka. Saya lanjut bercerita bahwa saya membeli kaset itu di sebuah pertokoan di Makassar sewaktu saya pulang, dan saya berulang kali memutarnya setelah itu. Saya senang melihat mereka tampak senang dengan cerita saya. Saya meminta mereka mendengarnya, dan saya tekankan bahwa ‘Oklahoma’ adalah lagu wajibnya.

Sebelum atau setelah mereka meminjam kaset itu, saya lupa, saya masih ingat saya memasukkan kaset itu ke kolong meja, memosisikannya sedemikian rupa di paling sudut seolah dia adalah barang paling berharga dan rahasia. Kini, setelah saya menghapus lagu-lagu di playlist winamp dan menyisakan ‘Oklahoma’, saya menyadari bahwa itu memang benar. ‘Oklahoma’, tanpa begitu saya sadari penuh sewaktu itu, adalah seorang kawan. Dia dan saya menciptakan ruang-ruang personal yang sebenarnya ingin saya buka tapi tak punya kekuatan untuk melakukan itu secara total. Meminta kawan-kawan saya untuk mendengarnya hanya sebuah langkah malu-malu, walau sebenarnya mereka pun tidak akan ambil pusing. Mereka pasti bereaksi seperti segerombolan remaja lain yang pulang sehabis nonton konser Gita Gutawa, dan tak menyadari bahwa Billy yang menangis di balik jendela seperti dia yang tak pernah tahu siapa dan apa itu Bapak. Tetap saja itu membuat saya kini cukup merasa seperti Harry.

Jika Ikan Paus Punya Sayap

Posted Oktober 19, 2009 by marfahd
Categories: Terjemahan

Jika ikan paus punya sayap,
hidup mereka akan penuh dengan tingkah laku yang menggelikan

mereka akan terbang di langit
mereka akan mengusik burung-burung
mereka akan memainkan sebuah alat aneh dan berpura-pura menjadi pilot pesawat
mereka akan menyembunyikan matahari saat tepat pada siang
mereka akan bersandar dengan lembut di atas kawat listrik
mereka akan mengeram telur-telur mereka seperti yang lain lakukan
dan jika mereka juga punya paruh, bulu, dan dua kaki, kita tak akan lagi memanggilnya “ikan paus” tapi “burung”, dan begitulah!

* “Jika Ikan Paus Punya Sayap” adalah terjemahan dari buku cerita bergambar Prancis, “Si Les Baleines Avaient Des Ailes” (Casterman, 2000), karya Florence Langlois

Aku Ingin Bayi Gajah

Posted Juli 29, 2009 by marfahd
Categories: Terjemahan

Guillame, pecinta binatang.  Dia punya seekor anjing, seekor hamster, kura-kura, ikan-ikan merah, dan dua ekor kucing. Dan semua itu belum cukup baginya!

Pagi ini, dia duduk lembut di atas lutut ibunya. Dia lalu berbicara pelan.

“Tahukah kau, Mama, aku sangat mencintai…”

“Mencintai apa?”

“Seekor binatang kecil.”

“Lagi?” kejut Ibu. Dia mengerti Guillame ingin binatang baru. “Lagi-lagi harus memberi makan, memandikan, menyisir, merawat saat ia sakit, mengajaknya jalan-jalan keluar.”

“Mama, aku mohon…”

“Hmm…binatang apa?” Ibu mulai melemah.

“Ayo tebak!” Guillame mengajak ibunya bermain.

“Coba kita lihat. Seekor tikus putih kecil?”

“Ah bukan! Jika aku memilikinya, dia akan melarikan diri dan mendatangi tempat tidurku tiap malam.”

“Seekor burung beo?

“Bukan juga! Jika aku memilikinya, dia akan mengulangi semua yang aku lakukan, semua yang aku katakan.”

“Seekor monyet kecil?

“Bukan pula! Jika aku memilikinya, dia akan mengacaukan puzzle-ku dan merusak prajurit-prajuritku.”

“Kalau begitu, pasti seekor burung kenari?”

“Itu pun bukan! Jika aku memilikinya, dia akan menyanyi dan membangunkanku terlalu pagi.”

“Aku tak bisa jawab. Aku menyerah,” kata Ibu pasrah.

“Hehe, baiklah. Dia seekor… seekor… seekor gajah!” teriak Guillame merasa menang.

“Seekor gajah?” kali kedua Ibu terkejut.

“Iya, tapi yang kuinginkan kecil, tidak besar. Seekor bayi gajah.”

“Kau tahu kalau itu akan mengganggu?” tanya Ibu. “Seekor bayi gajah akan tumbuh dewasa, membesar, dan sangat merepotkan.”

“Aku tahu, Mama, tapi dia akan menjadi teman yang baik. Dia akan merapikan mainan-mainanku. Saat kau masuk ke kamarku, kau akan bebas melangkah. Layanganku tergantung di dinding, bolaku tersimpan di ketinggian, dan dia tahu jika akan mencarinya. Aku jadinya tidak akan mengganggumu lagi saat kau sedang merajut lengan baju sebuah rompi,” Guillame merajuk. Ibu hanya diam mendengarkan.

“Ketika kau mulai lelah, kami akan membantu. Kami akan membersihkan piring-piring, lantai, segala pekerjaan yang memang mesti dilakukan. Di musim panas, dia akan membantuku membuka jalan di tengah duri-duri dan belukar, dan aku akan pulang membawa berbagai macam buah di tangan untuk membuat agar-agar,” lanjut Guillame.

“Lalu, saat Mardi Gras*, kau akan bangga terhadapku. Dia akan mengantarku ke tengah perayaan dalam kostum dansa, dan aku menjadi raja termasyhur,” cerita Guillame.

Ibu tersenyum. Dia berdiri mengangkat Guillame dalam pelukan, dan berbisik, “Baiklah.”

Seekor bayi gajah akan memberi warna.[]

* Hari terakhir karnaval sebelum puasa Rabu Abu di bulan Februari (Katolik). Hari ini disebut Shrove Tuesday dalam bahasa Inggris.

“Aku Ingin Bayi Gajah” merupakan terjemahan dari cerita anak Prancis berjudul “Un éléphant, c’est épatant!” yang ditulis oleh Geneviève Laurencin.